Sabtu, 29 Oktober 2016

Kinerja Index Sektoral Selama Periode 01 Januari 2016 sampai 28 Oktober 2016


Selama tahun 2016 IHSG telah mengalami kenaikan sebesar 18,12% dari harga pembukaanya sebesar 4.580,17 pada awal tahun 2016. Selama periode Januari - 28 Oktober 2016 sektor mining mencetak kinerja tertinggi sebesar 60,67%. 

Berikut kinerja index sektoral selama periode 01 Januari sampai 28 Oktober 2016.




10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih di Pasar Reguler Transaksi 28 Oktober 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 28 Oktober 2016 tercatat pembelian asing bersih pada saham ENRG sebanyak 52,79 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 2,69 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua oleh saham BRMS sebanyak 41,42 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 3,31 milyar rupiah, dan diurutan ketiga oleh saham WSBP sebanyak 33,24 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 20,57 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan pembelian bersih di pasar regular pada perdagangan tanggal 28 Oktober 2016.



Sementara daftar 10 saham teratas yang tercatat asing melakukan penjualan bersih pada perdagangan 28 Oktober 2016 pada saham BUMI sebanyak 200,40 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 36,29 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua pada saham TLKM sebanyak 32,77 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 138,64 milyar rupiah, dan pada urutan ketiga saham DEWA sebanyak 22,47 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 1,17 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan penjualan bersih di pasar regular pada perdagangan tangga 28 Oktober 2016.





Kamis, 27 Oktober 2016

10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih di Pasar Reguler Transaksi 27 Oktober 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 27 Oktober 2016 tercatat pembelian asing bersih pada saham ELTY sebanyak 64,67 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 3,26 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua oleh saham BUMI sebanyak 60,36 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 13,59 milyar rupiah, dan diurutan ketiga oleh saham DOID sebanyak 19,25 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 9,39 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan pembelian bersih di pasar regular pada perdagangan tanggal 27 Oktober 2016.


Sementara daftar 10 saham teratas yang tercatat asing melakukan penjualan bersih pada perdagangan 27 Oktober 2016 pada saham ENRG sebanyak 946,60 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 52,28 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua pada saham DEWA sebanyak 33,65 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 1,83 milyar rupiah, dan pada urutan ketiga saham WSBP sebanyak 17,29 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 9,77 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan penjualan bersih di pasar regular pada perdagangan tangga 27 Oktober 2016.




Rabu, 26 Oktober 2016

10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih di Pasar Reguler Transaksi 26 Oktober 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 26 Oktober 2016 tercatat pembelian asing bersih pada saham PWON sebanyak 11,45 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 8,52 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua oleh saham CNKO sebanyak 9,56 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 0,54 milyar rupiah, dan diurutan ketiga oleh saham ASRI sebanyak 7,18 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 3,23 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan pembelian bersih di pasar regular pada perdagangan tanggal 26 Oktober 2016.



Sementara daftar 10 saham teratas yang tercatat asing melakukan penjualan bersih pada perdagangan 26 Oktober 2016 pada saham ENRG sebanyak 722,50 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 36,18 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua pada saham LPKR sebanyak 60,74 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 54,25 milyar rupiah, dan pada urutan ketiga saham SRIL sebanyak 55,74 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 13,65 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan penjualan bersih di pasar regular pada perdagangan tangga 26 Oktober 2016.




Selasa, 25 Oktober 2016

10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih di Pasar Reguler Transaksi 25 Oktober 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 25 Oktober 2016 tercatat pembelian asing bersih pada saham PGAS sebanyak 23,31 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 60,50 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua oleh saham DMAS sebanyak 22,94 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 5,9 milyar rupiah, dan diurutan ketiga oleh saham LSIP sebanyak 15,66 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 24,54 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan pembelian bersih di pasar regular pada perdagangan tanggal 25 Oktober 2016.



Sementara daftar 10 saham teratas yang tercatat asing melakukan penjualan bersih pada perdagangan 25 Oktober 2016 pada saham BRMS sebanyak 28,87 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 1,94 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua pada saham SRIL sebanyak 28,08 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 6,94 milyar rupiah, dan pada urutan ketiga saham DOID sebanyak 18,71 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 9,56 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan penjualan bersih di pasar regular pada perdagangan tangga 25 Oktober 2016.




Kamis, 20 Oktober 2016

10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih di Pasar Reguler Transaksi 20 Oktober 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 20 Oktober 2016 tercatat pembelian asing bersih pada saham BUMI sebanyak 143,10 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 19,29 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua oleh saham TLKM sebanyak 33,86 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 142,24 milyar rupiah, dan diurutan ketiga oleh saham ADRO sebanyak 13,778 juta lembar dengan nilai pembelian bersih 20,85 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan pembelian bersih di pasar regular pada perdagangan tanggal 20 Oktober 2016.



Sementara daftar 10 saham teratas yang tercatat asing melakukan penjualan bersih pada perdagangan 20 Oktober 2016 pada saham ENRG sebanyak 372,15 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 19,39 milyar rupiah, disusul pada urutan kedua pada saham SRIL sebanyak 221,24 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 55,52 milyar rupiah, dan pada urutan ketiga saham MYRX sebanyak 19,32 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 2,66 milyar rupiah.

Berikut daftar saham yang tercatat asing melakukan penjualan bersih di pasar regular pada perdagangan tangga 20 Oktober 2016.




Selasa, 18 Oktober 2016

Stock Pick - Wijaya Karya Beton (WTON) - Analisa Teknikal




Rekomendasi Teknikal:

Buy
Last Price : 910
Stop loss : 880
Target Price : 950
RSI : Golden Cross


Kamis, 06 Oktober 2016

Technical - Stock Pick PT Prudelta Lestari Tbk (DMAS)





Saham DMAS selama 14 hari perdagangan tertahan dikisaran support 242, Selanjutnya saham DMAS memiliki potensi untuk menguji resistance 296 dimana merupakan harga tertingginya selama tahun 2016. Indikator Stochastic dan MACD kompak golden cross. Buy DMAS.

Date : 6 Oktober 2016
Last : 250
Target : 296
Stop Loss : 226
52 wk range : 183 - 296

Disclaimer On.




Jumat, 30 September 2016

10 Saham Teratas Pembelian dan Penjualan Asing Bersih Selama Januari - September 2016


Pada akhir penutupan perdagangan 30 September 2016 IHSG ditutup melemah pada level 67,15 poin atau 1,24% ke level 5.364,80. Selama periode Januari - September 2016 tercatat pembelian asing bersih pada PT Kalbe Farma, Tbk (KLBF) sebanyak 903,6 juta lembar saham dengan nilai pembelian bersih 1,34 triliun rupiah, disusul oleh PT Telekomunikasi Indonesia (persero), Tbk (TLKM) sebanyak 884,8 juta lembar saham dengan nilai pembelian bersih 3,7 trilun rupiah.
 
Berikut 10 saham yang mencatat pembelian asing bersih selama periode Januari - September 2016:
 
10 Saham Teratas Pembelian Asing Bersih Selama Periode januari - September 2016
Sementara selama periode Januari - September 2016 tercatat penjualan asing bersih pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) sebanyak 831 juta lembar dengan nilai penjualan bersih 516 milyar rupiah, disusul oleh Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk sebanyak 623 juta lembar saham dengan nilai penjualan bersih 1,69 trilun rupiah.
 
Berikut 10 saham yang mencatat penjualan asing bersih selama periode Januari - September 2016:
 
10 Saham Teratas Penjualan Asing Bersih Selama Periode Januari - September 2016
 
 
 

Selasa, 27 September 2016

Bursa akan dibanjiri dana rights issue Rp 14,5 T


Sumber: kontan

JAKARTA. Menjelang tiga bulan terakhir tahun ini, pasar modal masih semarak dengan gelaran rights issue. Emiten mulai memanfaatkan momentum kenaikan IHSG yang biasanya terjadi di akhir tahun. 
 
Noor Rachman, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengatakan, ada sembilan emiten yang sudah mengajukan diri untuk melakukan aksi rights issue dalam waktu dekat. 
 
Nilai emisi yang dibidik mencapai Rp 14,5 triliun. "Di kuartal akhir memang lebih banyak emiten yang memanfaatkan momentum pasar untuk menambah modal," ujar Noor kepada KONTAN, Jumat (23/9). 
 
Nilai rights issue yang cukup besar datang dari tiga emiten BUMN. Ketiga emiten tersebut adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang membidik dana Rp 6,1 triliun, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang mengincar Rp 1,87 triliun dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target dana sebesar Rp 1,78 triliun. 
 
WIKA sudah menentukan rentang harga rights issue di Rp 1.525 hingga setinggi-tingginya Rp 2.505 per saham. Dana yang diraih akan digunakan untuk ekspansi proyek infrastruktur pemerintah. 
 
Selain itu, beberapa emiten perbankan juga bakal memperkuat permodalan melalui penerbitan saham baru. Misalnya, PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) yang membidik Rp 1 triliun dari rights issue
Aksi rights issue ini bisa menguntungkan investor ke depan. Investor bisa memanfaatkan bertambahnya saham emiten yang beredar untuk menambah portofolionya. 
 
Lucky Bayu Purnomo, Analis Danareksa Sekuritas, mengatakan, investor sudah bisa mengambil posisi agar bisa menjaring cuan dari hajatan ini. Menurutnya, sektor infrastruktur dan konstruksi masih jadi unggulan.
 
Ia menyebut, investor sudah mulai bisa mengoleksi saham-saham emiten BUMN yang akan rights issue
 
Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan menyarankan investor mencermati emiten yang valuasinya masih murah. Karena itu, Alfred juga menjagokan saham-saham BUMN seperti WIKA dan JSMR. 
 
Saham ini dinilai akan konsisten memberi pertumbuhan jangka panjang. "Harus dicermati juga likuiditasnya. Jangan pilih emiten rights issue yang likuiditasnya kecil," tegas dia. 
 
 

Rabu, 21 September 2016

Potensial Upside Saham JSMR (PT Jasa Marga Persero, Tbk)


Harga saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk dengan kode saham JSMR selama year to date 2016 menunjukan kinerja saham -3,28%. Penurunan harga saham emiten berkode JSMR selama tahun 2016 disebabkan adanya sentiment akan melakukan right issue.
 

 
 
Secara teknikal MACD telah menunjukan golden cross yang mengindikasikan harga rebound dan didukung dengan stochastic yang naik. Candle penutupan tanggal 21 September 2016 membentuk formasi bullish hammer (Baca disini bullish hammer).
 
 
Bagaimana secara fundamental?
 
Last financial date        : 30 Juni 2016
Last closing price date  : 21 September 2016
Last closing price         : Rp 4.860
Last deviden                 : Rp 43
EPS 2016 (TTM)         : Rp 253,22
PER 2016 (TTM)        : 19,19X
PER Low (5yrs)          : 23,10X
PER High (5Yrs)         : 34,16X
Average PER (5Yrs)   : 28,63X
Harga Wajar 2016       : Rp 7.250               
 
 
Selama tahun 2016 JSMR membukukan laba per saham Rp 253,22/Lembar (TTM). Baca disini tentang laba per saham. Mengalami kenaikan sebesar 17,43% disbanding laba per saham tahun 2015 Rp 215,64.
 
Selama 5 tahun terakhir JSMR diperdagangkan pada  PER terendah 23,10X dan PER tertinggi 34,16X. Sehingga JSMR dalam 5 tahun terakhir diperdagangkan pada PER rata-rata 28,63X.  Sehingga nilai wajar JSMR berdasarkan rata-rata PER yang diperdagangkan dalam 5 tahun terakhir Rp 7.250, inilah target price JSMR untuk 2016. Baca disini tentang PER.
 


Selasa, 06 September 2016

Istilah Debt Equity Ratio (DER)



Untuk menjalankan operasional dan ekspansinya perusahaan didanai berasal dari dua sumber, yaitu berasal dari pinjaman/hutang dan berasal dari modal saham dan atau laba ditahan. Modal saham dan laba ditahan disebut juga sebagai equitas. Pinjaman/hutang bisa berasal dari pemasok yang menjual barangnya secara kredit, pemberi pinjaman seperti bank, dan obligasi yang diterbitkan perusahaan.
 
Kedua sumber pendanaan tersebut akan digunakan perusahaan untuk membeli atau menaikan assetnya, kemudian dari asset tersebut akan digunakan untuk mendanai kegiatan operasional atau modal kerjanya dan ekspansi.
 
Debt to Equity Ratio (DER) mengukur berapa besar perbandingan antara hutang/kewajiban terhadap equitas. Formula Debt to Equity Ratio (DER) bisa digambarkan sebagai berikut :
 
Debt Equity Ratio = Total hutang / Total Equitas.
 
Contoh, ketika perusahaan memiliki total hutang/kewajiban sebesar Rp 600.000,- dan total equitasnya Rp 200.000,- maka Debt to Equity Rationya 300%, artinya total asset perusahaan didanai sebagian besar berasal dari pinjaman atau hutang dan ini memiliki resiko keuangan yang tinggi.
 
Dalam pemilihan saham, saya sendiri akan memilih perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio kurang dari 100%, hal ini karena pendapatan dan pertumbuhan perusahaan tersebut bisa dimaksimalkan untuk pemegang sahamnya. Karena dengan perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio lebih dari 100%, maka pendapatan perusahaan akan terbebani dengan biaya bunga ke pemberi pinjaman dan arus kas juga akan dipakai untuk membayar pokok pinjaman dan bunganya, sehingga pemegang saham menjadi prioritas terakhir dalam penentuan besarnya deviden yang akan dibagikan.
 
Selain alasan diatas perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio yang tinggi sangat berisiko gagal bayar pada saat hutangnya jatuh tempo, hal ini mungkin bisa menyebabkan kebangkrutan. Sebagai pemegang saham tentu akan mendapat prioritas terakhir setelah semua asetnya digunakan untuk membayar hutangnya.  Baca juga pengertian saham
 
Tentu saja untuk menentukan besar atau kecilnya Debt to Equity Ratio anda harus membandingkan dengan perusahaan dalam sector atau industry yang sama. Sehingga memperoleh gambaran mengenai normalnya ratio hutang terhadap equitas diperusahaan yang sedang dianalisis sahamnya.
 
 
 
 
 
 

Jumat, 02 September 2016

Penyebab Harga Saham Berubah

Harga saham mengalami perubahan setiap hari perdagangan sebagai akibat dari kekuatan permintaan dan penawaran. Jika lebih banyak orang yang ingin membeli (permintaan) saham perusahaan tertentu dibandingkan dengan yang ingin menjualnya (penawaran), maka harga akan cenderung naik. Sebaliknya jika lebih banyak orang yang ingin menjualnya dibandingkan dengan yang ingin membelinya, maka harga akan cenderung turun.
 
Memahami permintaan dan penawaran atas suatu saham itu mudah. Justru yang sulitnya adalah memahami apa yang membuat orang ingin membeli atau menjual saham tertentu. Ada berita positif atau negative apa atas perusahaan terebut.
 
Prinsipnya adalah bahwa perubahan harga saham menunjukan apa yang investor harapkan dari perusahaan tersebut. Harga saham mencerminkan nilai perusahaan saat ini dan juga harapan investor atas perusahaan terebut dimasa yang akan datang. Harga saham tidak sama dengan nilai perusahaan. Nilai perusahaan adalah Market Kapitalisasi yang diperoleh dari hasil perkalian antara harga saham/lembar dengan jumlah saham yang beredar.
 
Market Kapitalisasi = Harga Saham/lembar X Jumlah saham yang beredar.
 
Contoh, Suatu perusahaan PT ABC Tbk memiliki harga Rp 500/lembar dengan jumlah saham beredar 1,000,000 Lembar, maka maket kapitalisasi atau  nilai perusahaannya Rp 500.000.000,-
 
Sementara Perusahaan PT DEF Tbk memiliki harga Rp 250/lembar dengan jumlah saham beredar 5.000.000 lembar, maka market kapitalisasi atau nilai perusahaannya Rp 1.250.000.000,-
 
Maka bisa disimpulkan perusahaan PT DEF Tbk memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi dibandingkan PT ABC Tbk, meskipun harga saham per lembarnya lebih rendah dibandingkan dengan PT ABC Tbk.
 
factor yang paling penting terhadap nilai perusahaan adalah laba. Laba adalah keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika perusahaan tidak pernah menghasilkan keuntungan, hampir dipastikan tidak akan bias bertahan lama. Untuk perusahaan public laporan keuangan dikeluarkan 4 kali dalam setiap tahun.  Alasannya adalah para investor dan analis menilai perusahaan didasarkan pada proyeksi laba yang mereka buat. Jika laporan keuangan yang dipublikasikan menghasilkan laba diatas yang mereka harapkan, maka harga saham akan naik. Sebaliknya jika laporan keuangan yang dipublikasikan menghasilkan laba dibawah yang mereka harapkan, maka harga saham akan turun.
Akan tetapi tidak hanya laba perusahaan yang bisa mempengaruhi terhadap harga suatu saham. Tetapi ada rasio-rasio lain yang investor pertimbangkan.
 
Jadi, apa yang menyebabkan harga saham berubah.? Jawabannya tidak ada yang benar-benar mengetahui secara pasti.
 
Jadi, kesimpulan dari bahasan ini adalah:
 
- Permintaan dan penawaran akan mempengaruhi harga saham di pasar.
- Membandingkan harga per lembar perusahaan yang satu dengan yang lainnya tidak memiliki arti apa-apa dan tidak mencerminkan nilai perusahaan.
- Nilai perusahaan atau market kapitalisasi diperoleh dari hasil perkalian harga per lembar saham dengan jumlah saham yang beredar.
- Secara teori laba atau keuntungan adalah yang mempengaruhi penilaian investor atas harga saham suatu perusahaan. Akan tetapi pada prakteknya tidak hanya laba yang mempengaruhi,tetapi ada factor lain yang mempengaruhi investor atas harga saham suatu perusahaan. Sentimen, Sikap dan Harapan investor yang pada akhirnya mempengaruhi harga saham.
- Banyak teori yang menjelaskan perubahan harga saham, namun sayangnya tidak ada satupun teori yang bisa menjelaskan semuanya.

Baca juga Pengertian saham
 

Pengertian Saham

Pengertian Saham

Saham adalah hak atas asset dan keuntungan perusahaan. Seberapa besar kepemilikan anda diperusahaan, tergantung atas seberapa banyak jumlah saham yang anda miliki.
 
Memiliki saham suatu perusahaan berarti anda adalah salah satu dari pemilik perusahaan. Hal ini berarti anda memiliki hak atau klaim atas bagian dari asset perusahaan tersebut. Saham yang anda miliki akan disimpan secara elektronik di KSEI. Baca Scriptless Trading di Bursa Efek Indonesia.
 
Investor individu seperti saya dan mungkin anda biasanya tidak memiliki pengaruh yang signifikan untuk mempengaruhi atau mengendalikan manajemen perusahaan. Hal ini karena jumlah lembar saham yang dimilikinya pun tidak banyak. Biasanya yang memiliki pengaruh untuk mengendalikan manajemen perusahaan adalah investor institusi dan pengusaha miliarder yang memegang jumlah besar saham.
 
Hak atas keuntungan perusahaan biasanya dibagikan satu tahun sekali dalam bentuk deviden. Baca juga deviden saham. Sementara hak atas asset perusahaan hanya terjadi jika perusahaan dibubarkan atau bangkrut.
 
Mengapa Perusahaan Menerbitkan Saham.?
 
Mengapa para pendiri perusahaan berbaik hati mau membagi keuntungan usahanya kepada ratusan bahkan kepada ribuan orang dari menerbitkan saham untuk dimiliki masyarakat luas.? Alasannya karena ada fase tertentu dimana usaha membutuhkan dana segar untuk kegiatan ekspansi usaha atau tambahan modal kerja.
 
Dengan menerbitkan saham perusahaan tidak perlu membayar bunga atau kewajiban mengembalikan pokoknya. Sementara masyarakat luas atau investor mengharapkan bahwa perusahaan tersebut akan naik nilainya dimasa yang akan datang dan mendapatkan deviden setiap tahunnya.
 
 
 
 

Kamis, 11 Agustus 2016

Laba tumbuh 5,6%, DPUM tetap gencar ekspansi

Sumber: kontan

PT Dua Putra Utama Makmur Tbk / DPUM berhasil mengantongi laba Rp 32,3 miliar pada akhir semester I 2016. Pencapaian ini naik 5,6% dibandingkan periode sama tahun lalu hanya Rp 30,6 miliar.
 
Berdasarkan keterbukaan, kenaikan laba karena pendapatan naik 36 % menjadi Rp 377,6 miliar dari semester I tahun lalu Rp 277,3 miliar. Kontribusi pendapatan terbesar dari jualan ikan dan produk pengolahan 85% atau Rp 323,9 miliar, sedang penjualan produk udang dan olahanya 15% atau Rp 53,7 miliar.
 
Direktur Keuangan DPUM Indra Apriyadi mengatakan penjualan masih dalam jalur yang direncanakan. Manajemen optimistis hingga akhir tahun penjualan bisa menyentuh angka sekitar Rp 1 triliun karena terdorong ekspansi perusahaan yang sangat gencar.
 
Adapun laba bersih perusahaan juga dibidik diangka sekitar Rp 130 miliar. ”Kita masih optimistis tercapai, melihat market yang cukup bagus di domestik maupun luar negeri,” kata Indra.
 
Ke depanya DPUM juga berminat untuk menambah negara tujuan ekspor seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi. Indra mengatakan market domestik yang menjadi fokus utama perusahaan, tapi diharapkan pendapatan ekspor bisa memberikan kontribusi hingga 40% diakhir tahun. Saat ini juga sudah mengantongi izin ekspor ke Amerika dan Australia dan sedang mengurus izin ekspor ke Uni Eropa.

Lihat Ringkasan Kinerja PT Dua Putra Utama Makmur Tbk / DPUM
 
 

Saham Sektor Properti dan Konsumsi Direkomendasikan Beli

Sumber: berita satu

Dihubungi terpisah, analis PT Binaartha Parama Halimas Tansil mengatakan, secara teknikal, saham-saham grup Astra masih tergolong lebih likuid dibandingkan konglomerasi lain. Di antara anak usaha Astra, saham UNTR masih direkomendasikan beli, jika di bawah Rp 16.500. Selain itu, saham ACST juga direkomendasikan beli pada harga Rp 3.400.

Meski tertekan oleh komoditas tambang, kinerja United Tractors bakal tertolong dengan upaya perseroan menggarap proyek konstruksi, melalui Acset Indonusa. “Dalam perjalanan menuju akhir tahun 2016, saham UNTR dan ACST ditargetkan masing-masing sekitar Rp 19.500 dan Rp 3.900,” kata dia.

Dari Grup Sinarmas, kata Halimas, saham BSDE menjadi pilihan lantaran berbagai sentimen yang bakal mendukung sektor properti, seperti potensi dana repatriasi yang mengalir ke properti serta kebijakan suku bunga kredit yang berpeluang memulihkan penjualan.

Saham BSDE direkomendasikan beli saat terjadi koreksi, atau di posisi Rp 2.200. Target saham BSDE dalam perjalanan hingga akhir tahun ini di posisi Rp 2.500.

Senada dengan Grup Sinarmas, lanjut Halimas, saham properti di Grup Lippo seperti LPKR juga menjadi rekomendasi beli lantaran sentimen yang mendukung sektor tersebut. Saham LPKR direkomendasikan beli di harga Rp 1.160 dengan target akhir tahun Rp 1.300.

Dia menerangkan, untuk Grup Salim, saham INDF tetap pilihan menarik untuk jangka panjang, meskipun posisi harga saat ini sudah terbilang mahal. Sebaiknya, investor menunggu harga INDF di posisi Rp 7.800 untuk mengakumulasi beli. Target saham INDF di akhir tahun berada di posisi Rp 8.800.
 
Pada kelompok BUMN, Halimas merekomendasikan saham di sektor tambang seperti ANTM dan PTBA. Hal ini lantaran sentimen dari harga komoditas tambang yang diperkirakan bakal pulih tahun ini, dibanding tahun lalu. Selain itu, saham-saham tambang BUMN ini telah terkoreksi dalam akhir tahun lalu.

“Saham ANTM bisa buy pada harga Rp 800-an dengan target akhir tahun Rp 940, Sedangkan PTBA buy di posisi Rp 9.700 dengan target akhir tahun Rp 12.000,” tuturnya.

Untuk kelompok MNC, menurut Halimas, yang menjadi rekomendasi adalah PT Global Mediacom Tbk (BMTR). Di antara grup konglomerasi lain, MNC dipandang kuat pada bisnis media dengan strategi pengembangan anak usaha dan efisiensinya. Saham BMTR dapat dibeli pada harga Rp 1.100 dengan target akhir tahun Rp 1.250. (fik/ian)

Lihat Ringkasan Kinerja Acset Indonusa Tbk (ACST)

Lihat Ringkasan Kinerja Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

Lihat Ringkasan Kinerja Lippo Karawaci Tbk (LPKR)

Lihat Ringkasan Kinerja Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Lihat Ringkasan Kinerja Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)

Lihat Ringkasan Kinerja Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA)

Lihat Ringkasan Kinerja Global Mediacom Tbk (BMTR)






 

Senin, 08 Agustus 2016

Analis rekomendasikan buy saham PTPP

Sumber: kontan

JAKARTA. PT PP Tbk (PTPP) membukukan laba bersih yang sangat baik pada semester pertama tahun ini yaitu Rp 352 miliar. Pencapaian ini naik hampir 90% dibandingkan realisasi pada periode sama tahun lalu Rp 174,5 miliar. Peningkatan laba bersih ini didorong oleh penjualan yang juga naik 24% menjadi Rp 6,47 triliun dibanding periode sama tahun lalu Rp 3,4 triliun.
 
Pencapaian tersebut adalah merupakan kontribusi seluruh lini bisnis perseroan yang menghasilkan keuntungan bagi perseroan, yaitu konstruksi, properti, EPC, pracetak, peralatan dan investasi.
 
Tiesha Putri analis DBS Vickers dalam risetnya hari Kamis (04/08) lalu mengatakan pertumbuhan pendapatan PTPP yang kuat didorong oleh bisnis konstruksinya. Selain konstruksi, PTPP juga mulai serius jalani bisnis di bidang pembangkit listrik.
 
Emiten konstruksi dan properti ini berencana akan mengerjakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas mencapai 4.000 megawatt (MW) dalam waktu tiga tahun hingga empat tahun ke depan. Nilai investasinya mencapai US$ 6 miliar. Sementara tahun depan, PTPP membidik proyek PLTU 1.200 MW.
 
Saat ini perusahaan tengah menjalankan delapan proyek pembangkit listrik yang diharapkan bisa beroperasi pada Oktober atau November tahun ini. Salah duanya adalah PLTU di Meulaboh 2x200 MW dan PLTU Jawa Bali 3 berkapasitas 500 MW.

Tiesha mengatakan perusahaan awalnya mengharapkan untuk mengamankan nilai kontrak baru di pembangkit di pertengahan pertama tahun ini yaitu Rp 6 triliun, tetapi baru mendapat kontrak Rp 994 miliar atau 19% dari target setahun penuh kontrak baru yaitu Rp 31 triliun. "Diharapkan akan lebih banyak kontrak pembangkit baru yang masuk dalam 12 bulan berikutnya," kata Tiesha,
 
Untuk lebih fokus di bisnis energi, PTPP rencananya akan membentuk anak usaha PP Energi dengan melakukan penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) pada tahun depan.
 
Lucky Bayu, analis Danareksa Sekuritas mengatakan pembentukan anak usaha tersebut sangat positif karena melihat kinerja anak usaha di bidang properti yaitu PPRO yang cukup baik.
 
"Kinerja PPRO ini merupakan potret PTPP sebagai induk usaha yang memiliki kualitas dan capability untuk mengembangkan anak usaha lainnya," kata Lucky kepada KONTAN, Senin (8/8).
 
Proyek pembangkit yang dijalankan PTPP ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang ingin mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang baik dengan percepatan proyek infrastruktur, salah satunya dengan program kelistrikan 35.000 mw.
 
Lucky menambahkan fundamental PTPP yang cukup solid ini mampu membawa perseroan untuk menjalankan lini bisnis yang beragam.
 
Tantangannya adalah persaingan usaha di bidang yang sama terutama emiten pelopor atau lebih dulu terjun di bisnis pembangkit listrik seperti MEDC atau WSKT yang juga memiliki pembangkit. Namun, "Bisnis pembangkit ini termasuk defensif yaitu tidak akan terganggu terhadap dinamika ekonomi," ujar Lucky.
 
Sementara untuk right issue, PTPP akan mengadakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 23 Agustus mendatang untuk memperoleh persetujuan para pemegang saham.
 
Lalu right issue senilai Rp 2,5 triliun yang didapat dari penyertaan modal negara (PMN) akan digelar tentative pada Oktober mendatang. Dana tersebut rencananya akan digunakan penambahan modal pada proyek jalan tol dan property.
 
Selama setahun ini, PTPP berharap bisa mengantongi kontrak baru Rp 31 triliun. Lucky beranggapan sepertinya perseroan mungkin tidak bisa capai target tersebut. "Rasanya sulit karena waktu kerja tinggal empat bulan lagi, sementara kondisi pasar sudah pasif," tambahnya.
 
Namun, untuk tahun depan Lucky memandang kinerja yang positif dari PTPP karena mungkin PTPP memperoleh proyek-proyek strategis dari pemerintah. Lucky masih merekomendasikan beli dengan target Rp 4.960.
 
Sementara Tiesha menyukai saham PTPP karena track record-nya yang cukup baik dalam mengeksekusi proyek-proyek infrastruktur yang beresiko tinggi.
 
"Kita akan terus memantau kemajuan perseroan dalam bidang pembangkit yang mungkin bisa memberikan penghasilan lebih bagi perseroan," kata Tiesha.
 
Tiesha merekomendasikan beli saham PTPP dengan target Rp 4.600. Sementara Suria Dharma analis Buana Capital juga merekomendasikan beli saham PTPP dengan target Rp 4.800. Pada perdagangan Senin (08/08) harga saham PTPP naik 1,57% menjadi Rp 4.520.
 
 

Minggu, 07 Agustus 2016

IHSG Tumbuh Tinggi

Sumber: Investor Daily

Pertumbuhan ekonomi yang di luar dugaan naik menjadi 5,18% (year on year/yoy) triwulan II-2016 dan perbaikan kondisi ekonomi yang lain seperti inflasi yang turun serta optimism masuknya dana hasil tax amnesty mendorong kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (5/8) sebesar 0,86% atau 46,38 poin menjadi 5.420,25.
 
Dana asing terus masuk ke Bursa Efek Indonesia dan kemarin mencatatkan net buy saham Rp 1,48 triliun, sehingga akumulasi pembelian bersih dari awal Januari tahun ini hingga kemarin menembus Rp 32,50 triliun. Padahal, tahun lalu, asing mencatatkan net sell (penjualan bersih) Rp 22,58 triliun.
 
Sementara itu, rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia juga menguat 13 poin atau 0,10% menjadi Rp 13.125 per dolar AS pada 5 Agustus 2016, dibanding hari sebelumnya.
 
Analis Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, IHSG sudah semakin dekat untuk mencapai level 5.500. Dia memperkirakan, indeks akan mencapai level tersebut dalam satu hingga dua pekan lagi.
 
Sedangkan Direktur Investasi Manulife Aset Manajemen Indonesia Alvin Pattisahusiwa sebelumnya memproyeksikan, IHSG dapat mencapai 5.500 pada akhir tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi Manulife sebelumnya sebesar 5.300. Dia mengatakan, pasar saham saat ini bergerak mendahului pertumbuhan fundamental emiten
 
Analis Binaartha Parama Halimas Tansil mengatakan, pihaknya merekomendasikan beli sejumlah saham unggulan, seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI. Selain itu, saham di sektor consumer goods seperti GGRM dan UNVR juga masih baik untuk dikoleksi.
 
 

Istilah Price Earning Ratio (PER)

Sebelum melanjutkan membahas Price Earning Ratio (PER) sudahkah anda memahami tentang Earning Per Share (EPS) atau Laba Per Saham? Dalam melakukan analisa fundamental suatu perusahaan atau emiten yang sahamnya akan dibeli salah satu yang akan jadi perhatian adalah price earning ratio (PER). Bagaimana menghitung PER ? dan untuk apa kegunaanya?
 
Price earning ratio (PER) adalah perbandingan atau ratio harga saham terhadap laba per sahamnya. Sehingga rumusnya sebagai berikut:
 
Price Earning Ratio (PER) = Harga saham / Laba Per Saham
 
Untuk lebih memudahkan pemahaman kita coba lihat ilustrasi dibawah ini:
 
Harga saham WIKA = Rp 2.600 / lembar
Laba Per Saham = Rp 101,81 / Lembar
 
sehingga kalau kita masukan ke dalam rumus sebagai berikut:
 
Price Earning Ratio (PER) = Rp 2.600 / Rp 101,81
                                            = 25,54 kali
 
artinya harga saham WIKA diperdagangkan dengan PER 25,54 kali Laba Per Sahamnya. Jadi, PER akan dipengaruhi oleh harga saham dan Laba Per Saham.
 
Sampai disini kita sudah membahas bagaimana cara menghitung PER. Pertanyaan berikutnya untuk apa informasi PER ini dihubungkan dengan keputusan untuk membeli atau menjual saham.?
 
Harga saham dibursa berbeda-beda antara satu emiten dengan emiten lain. Contoh PT ABC Tbk harga sahamnya pada hari ini Rp 800 / Lembar, sementara PT DEF Tbk harga sahamnya pada hari yang sama Rp 400 / lembar. Asumsikan kedua perusahaan tersebut berada pada sector yang sama. Pertanyaan mendasarnya apakah saham PT DEF Tbk relative lebih murah dibandingkan PT ABC Tbk.? jawabannya belum tentu. Bisa jadi PT ABC harga sahamnya relative lebih murah dan lebih menarik untuk di beli dibandikan dengan PT DEF Tbk. Disinilah analisa PER akan "bermain" untuk pengambilan keputusan saham mana yang akan dibeli. Mari kita lihat ilustrasinya sebagai berikut:
 
Ilustrasi Perbandingan PER
Dari Ilustrasi diatas diketahu PT ABC Tbk Laba Per Saham nya Rp 90 / Lembar dan harga saham pada hari tersebut Rp 800 / Lembar. Sehingga diperoleh PER nya 8,89 kali. Sementara PT DEF memiliki Laba Per Saham Rp 30 dan harga sahamnya pada hari tersebut Rp 400/lembar. Sehingga diperoleh PERnya 13,33 kali.
 
Dari ilustrasi tersebut jelas PT ABC Tbk akan lebih menarik dibandingkan PT DEF Tbk karena valuasi PER nya lebih murah. Jadi, salah satu untuk menentukan "murah" atau "mahal" suatu saham bukan terletak pada harganya, tetapi berapa valuasi PER nya. Meskipun harga saham PT DEF Tbk lebih rendah dibandingkan harga saham PT ABC Tbk. Jadi analisa PER ini harus ada perbandingannya. Semakin rendah nilai PER, maka semakin menarik saham tersebut.
 
 
 
 
 

Sabtu, 06 Agustus 2016

Istilah Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share atau disingkat EPS dalam bahasa Indonesia disebut Laba Per Saham merupakan total laba / keuntungan dibagi dengan jumlah lembar saham beredar. Sehingga hasilnya pun rupiah per lembah saham.
 
Contoh, Wijaya Karya Tbk (WIKA) membukan laba Rp 200 milyar dengan jumlah saham beredar 1 milyar lembar saham. Berapa EPSnya.?
 
Earning Per Share (EPS) = Laba / Jumlah saham beredar.
                                        = Rp 200 Milyar / 1 Milyar lembar saham
                                        = Rp 200/Lembar saham 
 
Data EPS ini sudah ada dalam Laporan Keuangan perusahaan yang tercatat di bursa.
 
Dari perhitungan EPS diatas mungkin kita bertanya untuk apa kita perlu tahu EPS.?  bukankah dari informasi total laba saja sudah cukup.? sebelum membahas lebih lanjut mengenai EPS ini mari kita lihat ilustrasi dibawah ini.
 
Ilustrasi Total Laba PT ABC Tbk untuk Tahun 2013 - 2015
Dari ilustrasi diatas dapat dilihat:
  • Total Laba PT ABC Tbk naik 50% pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2013
  • Total Laba PT ABC Tbk naik 100% pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2013

Lantas apakah laba per sahamnya mengalami kenaikan juga. Jawabannya bisa iya bisa juga tidak. seperti dilihat dari rumus menghitung EPS atau Laba per Saham akan dipengaruhi juga oleh jumlah saham yang beredar.  Apakah selama tahu 2013 sampai 2015 ada aksi korporasi yang mempengaruhi jumlah saham yang beredar.? jika iya, maka laba per saham atau EPS pun akan berubah. Contoh aksi korposari yang mempengaruhi jumlah saham beredar :
  • Right Issue atau HMETD
  • Stock Split atau pemecahan saham
  • konversi waran
  • Employee stock ownership plan
  • dsb
adanya aksi korporasi tersebut akan mempengaruhi jumlah saham yang beredar dimana pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil EPS atau Laba Per Sahamnya. Mari kita lanjutkan ilustrasi PT ABC Tbk.
 
Total Laba vs EPS PT ABC Tbk Untuk Tahun 2013-2015
Dari ilustrasi diatas dapat terlihat bahwa:
  • Total Laba PT ABC Tbk naik 50% atau 1,5 kali dari tahun 2013. Tetapi EPS atau Laba Per Sahamnya turun 16,7% dibandingkan tahun 2013.
  • Total Laba PT ABC Tbk naik 100% atau 2 kali dari tahun 2013. Tetapi EPS atau Laba Per Sahamnya hanya naik 11,1% dibandingkan tahun 2013.

Jadi sebagai investor saham atau calon investor saham selalu perhatikan pertumbuhan EPS atau laba per saham. Karena jumlah saham beredar suatu perusahaan atau emiten bisa berubah.

 
 

Deviden Saham

Apa itu deviden saham.? Deviden adalah bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham yang berhak menerimanya yang diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).  Deviden tidak sama dengan laba perusahaan.
 
Misal, Total Bangun Persada Tbk.(TOTL) membukukan laba per saham Rp 56,13 / lembar pada tahun 2015. Hasil RUPS memutuskan untuk membayar deviden kepada pemegang saham sebesar Rp 40 / lembar. Rp 40 / lembar inilah yang disebut deviden.
 
Apakah setiap perusahaan yang membukukan keuntungan / laba selalu membagikan deviden.? jawabanya tidak selalu. Bisa saja tidak membagikan deviden kepada pemegang sahamnya. Pembagian deviden dan besarnya deviden yang akan dibagikan diputuskan dalam RUPS.
 
Ketika perusahaan / emiten mengumumkan akan melakukan pembayaran deviden kepada pemegang sahamnya selalu akan menyertakan Cum deviden dan Ex Deviden. Apa itu cum deviden.? dan apa itu Ex Deviden.?
 
Cum deviden adalah tanggal terakhir dimana pemegang saham tersebut berhak atas deviden.
 
Ex Deviden adalah satu hari setelah tanggal Cum deviden dimana pemegang saham tersebut tidak memiliki hak atas deviden.
 
Contoh, 1 April 2016 Total Bangun Persada Tbk (TOTL) mengumumkan akan membagikan deviden untuk tahun buku 2015 sebesar Rp 40 / lembar kepada pemegang sahamnya dengan Cum Deviden 15 April 2016 dan Ex deviden 16 April 2016 dengan Pay date deviden 1 Mei 2016. Ini artinya setiap orang / Institusi yang memegang saham TOTL sampai dengan 15 April 2016 berhak mendapatkan deviden Rp 40/Lembar yang akan dibayarkan tanggal 1 Mei 2016.  Sementara setiap orang atau Institusi yang memegang saham tanggal 16 April 2016 tidak berhak atas deviden yang akan dibayarkan tanggal 1 Mei 2016.
 
Jadi dari contoh diatas meskipun kita baru membeli saham TOTL tanggal 15 april 2016, maka kita berhak atas deviden tersebut. Baca: Istilah Earning Per Share (EPS) atau Laba Per Saham

 

Scriptless Trading di Bursa Efek Indonesia

Pada tahun 2000 Bursa Efek Indonesia (BEI) melaksanakan perdagangan saham tanpa warkat alias scriptless trading. Jadi, jika anda akan menjadi investor di bursa saham jangan membayangkan anda akan menyimpan sertifikat/warkat saham secara fisik. Lalu apa buktinya saham yang sudah kita beli menjadi milik kita.? Bagaimana juga saham yang kita jual diserahkan ke pembelinya.? bagaimana dengan penyerahan dan penerimaan uang dari jual beli saham yang kita lakukan? Pertanyaan - pertanyaan seperti itu akan ada dipikiran para pemula yang baru ingin memulai investasi di bursa saham.
 
Ketika anda membuka rekening efek di perusahaan sekuritas anda juga sekaligus akan membuka Rekening Dana Investor (RDI) untuk menyimpan uang tunai anda yang akan dipergunakan untuk bertransaksi saham. Rekening Dana Investor ini yang akan anda pergunakan untuk deposit modal, untuk membeli dan menjual saham, dan untuk menarik/withdraw uang dari hasil transaksi saham ke rekening bank anda. sehingga dalam proses ini transaksi jual beli saham akan dilakukan dengan cara mendebit dan mengkredit Rekening Dana Investor anda  secara otomatis oleh perusahaan sekuritas. Sementara rekening efek akan dipergunakan untuk mendebit dan mengkredit jumlah saham anda oleh perusahaan sekuritas.
 
Lantas apa buktinya saham yang kita beli benar-benar dikreditkan oleh perusahaan ke rekening efek nasabah? anda jangan khawatir karena dalam proses ini ada lembaga diluar perusahaan sekuritas yang menjamin pertukaran saham ke tangan pemiliknya yang sah yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). KSEI inilah yang akan bertugas menyimpan perpindahan saham. Ketika ada kesalahpahaman antara nasabah dan perusahaan mengenai kepemilikan sahamnya, maka data yang terdapat di KSEI yang akan dipakai.
 
Setiap investor yang membuka rekening efek akan mendapatkan kartu AKSES dari KSEI. Jadi mintalah selalu Rekening AKSES melalui perusahaan sekuritas tempat anda membuka rekening efek. Dengan adanya kartu AKSES ini bertransaksi saham menjadi aman, nyaman dan tenang. Investor bias mengecek kepemilikan sahamnya dengan kartu AKSES ini di websitenya KSEI.
 
 
 
 

Kamis, 04 Agustus 2016

Para analis rekomendasikan buy saham KAEF

Sumber: kontan

JAKARTA. Emiten pelat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatatkan kinerja yang gemilang pada semester pertama tahun ini. KAEF membukukan pertumbuhan laba bersih 28% dari Rp 77,44 miliar di periode enam bulan pertama tahun lalu menjadi Rp 93,59 miliar.
 
Pencapaian tersebut karena pendapatan bersih dari KAEF juga tumbuh 18% di semester pertama tahun ini Rp 2,49 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 2,11 triliun.
 
Dari total pendapatan semester pertama, obat generik berkontribusi cukup besar yaitu Rp 1,17 triliun, lalu diikuti obat over the counter (OTC) Rp 530,3 miliar, dan obat ethical lisensi dan narkotika Rp 467 miliar, serta bahan baku dan alat kesehatan, jasa klinik dan laboratorium klinik.
 
Reza Priyambada, Kepala riset NH Korindo Securities melihat pencapaian KAEF ini sangat bagus di tengah masih adanya anggapan bahwa daya beli masyarakat masih belum membaik terutama di bidang farmasi.
 
Reza menilai kontribusi obat generik dan obat ethical lisensi dan narkotika yang masih cukup besar terhadap total pendapatan KAEF, maka bisa dikatakan kebutuhan akan obat-obat itu tergolong tinggi, "Kita lihat bagus buat perseroan dapat menguasai pasar obat generik dan obat ethical di dalam negeri," ujar Reza kepada KONTAN, Kamis (4/8).
 
Ditambah gerai apotik yang dimiliki KAEF saat ini juga turut membantu perseroan dalam mendistribusikan produknya. Sampai saat ini KAEF memiliki kurang lebih 736 apotek, 332 klinik kesehatan, dan 43 laboratorium.
 
"Kerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk menyalurkan obat antibiotiknya juga cukup membantu kinerja perseroan di tahun ini," kata Reza.
 
Lebih lanjut, tahun ini KAEF masih berpeluang untuk membuka beberapa gerai apotek lagi. Reza mengatakan untuk membuka gerai tidak dibutuhkan dana yang terlalu besar. Sentimen lain bagi KAEF di tahun ini adalah ekspansi pembangunan fasilitas pabrik di Banjaran, pabrik garam farmasi tahap kedua, dan pabrik rapit tes pertama, dan pabrik bahan baku obat pertama.
 
Tahun ini KAEF menganggarkan belanja modal sekitar Rp 958 miliar. Sumber pendanaan tersebut berasal dari kas perusahaan, pinjaman bank Rp 1 triliun dan pinjaman medium term notes (MTN) senilai Rp 300 miliar. Sebelumnya, KAEF berencana untuk menerbitkan right issue Rp 1 triliun, tetapi ditunda sampai paruh pertama tahun depan.
 
Dengan rencana pengembangan dan ekspansi yang dilakukan KAEF tahun ini, Reza melihat semuanya akan memberikan kontribusi yang positif terhadap pendapatan perseroan di masa-masa mendatang.
 
Renaldy Effendy, analis Bahana Securities dalam risetnya pada Rabu (27/7) lalu memprediksi sepanjang tahun 2016, KAEF mampu tumbuh double digit seperti yang sudah terjadi di semester pertama tahun ini.
 
Optimisme berasal dari permintaan domestik yang diprediksi akan tumbuh cukup signifikan seiring dengan kondisi ekonomi yang lebih baik dan pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN).
 
"Kami masih memprediksi laba bersih per saham bisa tumbuh 11% di tahun ini," kata Renaldy.
 
Sementara rencana pembentukan induk usaha holding badan usaha milik negara (BUMN) farmasi yang masih terus bergulir, Reza melihat efeknya ke KAEF belum terlihat. "Belum jelas juga akhirnya seperti apa," tambahnya.

Yang jelas, ada dan tanpa holding menurut Reza, KAEF masih bisa mengembangkan potensi pangsa pasarnya di obat generik. Misalnya dengan mengakuisisi perusahaan farmasi lain, dan atau penambahan gerai apoteknya. Pengembangan atau ekspansi yang dilakukan perseroan juga tergantung pada dana yang dimiliki KAEF.
 
Reza juga melihat sepertinya pasar memiliki persepsi bahwa dengan pembentukan holding farmasi tersebut, kinerja KAEF bisa lebih efisien dan lebih terpantau.
 
Renaldy memproyeksi hingga akhir tahun KAEF bisa mengantongi pendapatan Rp 5,5 triliun dan laba bersih Rp 277 miliar. Sementara Reza optimis KAEF bisa tumbuh 18-20% sampai akhir tahun untuk pendapatan dan laba bersih.
 
Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri merekomendasikan beli saham KAEF dengan target harga Rp 1.700. Lucky Bayu, analis Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli dengan target yang sama Rp 1.700.
 
Sementara Reza juga merekomendasikan beli saham KAEF dengan rentang harga Rp 1.680 - Rp 1.700. Pada perdagangan kemarin (4/8) harga saham KAEF naik 5,15% menjadi Rp 1.530.
 
 

Selasa, 02 Agustus 2016

Nih, prediksi analis perdagangan IHSG Rabu besok

Sumber: kontan

JAKARTA. Meski sempat melemah di awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan Selasa (2/8) naik 11,74 poin atau 0,22% ke level 5.373,32.
 
Indeks berhasil menguat di tengah pelemahan mayoritas bursa utama Asia pasca penurunan suku bunga acuan oleh Reserve Bank of Australia (RBA) sebesar 25 bps ke level terendah 1,5 %.
 
Milka Mutiara analis Phillip Securities mengatakan sentimen positif datang dari harga minyak yang kembali menguat ke level US$ 40.43 per barel setelah menyentuh level terendahnya sejak April di bawah level US$ 40 per barel.
 
Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan IHSG hari ini bergerak naik tetapi terbatas. Pergerakan tersebut disebabkan oleh aksi beli asing yang mencapai Rp 2,9 triliun. “Juga laju inflasi pada bulan Juli kemarin yang mencapai 6,9% menjadi sentimen pada IHSG kemarin," kata Hans kepada KONTAN.
 
Hans menambahkan pasar juga tengah menanti hasil pertumbuhan ekonomi di semester dua nanti yang diharapkan bisa mencapai 5,2%. Sementara di kuartal II, pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa mencapai 4,9%.
 
Tasrul analis KDB Daewoo Securities mengatakan hasil optimalisasi indikator Money Flow Index (MFI) sudah berada di support trend line dengan kecenderungan menguat dan indikator Relative Strength Index (RSI) masih cenderung naik dengan volume transaksi tembus rata-rata. "Sehingga diperkirakan potensi kenaikan lebih lanjut masih terlihat di IHSG besok," kata Tasrul kepada KONTAN.
 
Tasrul memprediksi IHSG perdagangan Rabu (3/8) besok masih menguat dengan rentang 5.335-5.401. Sementara, Milka memprediksi IHSG cenderung akan menurun di rentang 5.340-5.400. Lalu Hans memprediksi IHSG akan konsolidasi dengan rentang support: 5.350-5.320 dan resistance: 5.386 - 5.400.
 
Sementara Deky Rahmat Sani, analis NH Korindo Securities memperkirakan pada perdagangan besok, IHSG akan bergerak variatif dengan kecenderungan dibuka melemah mengingat bursa saham Asia yang mayoritas sore ini berada di zona merah serta kembali anjloknya harga minyak mentah dunia.
 
"Namun katalis positif dari domestik sendiri masih menjadi angin segar bagi para pelaku pasar terbukti dari aksi asing yang saat ini sudah beramai-ramai masuk ke Indonesia," kata Deky.
 
Lebih lanjut Deky menjelaskan IHSG besok diperkirakan akan bergerak di dua zona dengan kecenderungan melemah pada saat pembukaan perdagangan sesi I yang perlahan menguat terbatas dengan rentang support 5.350 - 5.328 dan resistance 5.380 - 5.399.